Tampilkan postingan dengan label Testimonial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Testimonial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2009

Artis dan Makanan Organik

Tingginya bahaya polusi dan hal-hal yang berbau kimiawi, mengundang sebagian orang untuk mulai menyadari pola hidup sehat. Salah satunya, dengan mengonsumsi makanan organik, yakni bahan makanan yang bebas kimia.
Beberapa artis pun mengikuti tren positif makanan organik.
Artis Meriam Belina sebagai konsumen Produk Melilea
Ratna Listy sebagai salah satu dari sekian artis konsumen setia Produk Melilea, berhasil membuang toksin dari tubuhnya.
  • Melly Manuhutu, buka toko parsel dan Makanan organik
Saat mengandung tiga tahun lalu, Melly gemar mengonsumsi sayuran organik. Kebetulan, di depan rumahnya di kawasan Ciburial, Puncak, terbentang kebun sayur dan buah organik milik tetangga. Sayangnya, Melly keguguran. Ia kembali ke Jakarta namun tidak meninggalkan hobinya mengonsumsi sayur dan buah organik.
Apalagi, ia sudah merasakan khasiatnya. "Dulu aku sering kena batuk-pilek. Tapi, percaya enggak percaya, selama mengonsumsi segala macam bahan makanan yang organik, aku merasa lebih sehat. Rasanya juga lebih fresh, enak di perut, dan kulit jadi bagus," ungkap Melly.
Tak cuma mengonsumsi, Melly akhirnya mulai berbisnis sayuran dan buah organik. Sistemnya masih delivery. "Kalau ada yang pesan, saya ambil dari perkebunan Permata Hati di Puncak." Jadilah tiap dua kali seminggu Melly turun ke kebun, memilih sendiri sayur dan buah. "Setelah dua tahun dijalani, sekarang saya punya banyak konsumen."
Meningkatnya permintaan, membuat Melly memutuskan membuat kios mungil ukuran 3 X 3 m persegi di bilangan Kemang Timur. Di dalam bangunan berdinding bata itu, terdapat bermacam-macam bahan organik. Mulai dari sayuran, kacang-kacangan, buah, dan umbi-umbian. Belakangan, Melly juga menjual beras dan beras merah organik yang diambil dari Yogya. "Sedangkan ayam dan telur organik, didrop dari Bandung. Juga ada dried food yang diimpor dari Jerman dan Australia, seperti garam, gula, susu, bihun, pasta, minyak goreng, dan lainnya."
Sejak buka kios pertengahan tahun ini, Melly bukan saja bertindak sebagai penjual, tapi juga "juru kampanye". Soalnya, "Banyak yang belum tahu makanan organik. Bahkan di awal-awal promosi, aku sampai bagi-bagi selebaran tentang makanan organik. Kayak juru kampanye," ujarnya sambil tertawa.
Memang, kata Melly, sayur dan buah organik harganya lebih mahal. Apalagi kalau sudah masuk di supermarket, bisa berlipat-lipat harganya. "Kalau aku, sih, enggak mau jual mahal-mahal. Niatku, selain berbisnis, ingin berbagi kepedulian hidup sehat," ujar Melly yang mengaku hanya mengambil sedikit keuntungan.
Mahalnya sayur dan buah orgaik, lanjut Melly, karena penghasil makanan organik masih jarang dan ragamnya masih sedikit. Produksinya pun tergantung musim. "Selain itu, untuk menghasilkan makanan organik, perlu lebih banyak tenaga kerja. Tanaman harus satu per satu diperiksa," ujar Melly yang terobsesi memiliki kebun sendiri plus supermarket tempat ia memasarkan hasil kebunnya.
Kini, menjelang Lebaran, Melly dan suaminya, Prakaca, sedang sibuk menyiapkan parsel berisi makanan organik. Harganya berkisar antara Rp 350 ribu-Rp 750 ribu. "Pikir-pikir, kan, bagus, ya, kalau memberi hadiah makanan sehat. Makanya, sejak awal puasa kemarin, aku sudah mulai bikin," kata Melly yang sudah dapat sekitar 20 pesanan parsel.
  • Sophie Navita dan Makanan Organik
Anak Sampai Pembantu Makan Sayur Organik
Seperti halnya Lucy, Sophie juga tahu soal khasiat makanan organik dari kegemarannya membaca. "Tapi waktu mau cari makanan organik, susah banget. Lalu, waktu hamil, aku berniat mengonsumsi makanan sehat. Nah, mulai, deh, aku hunting makanan organik yang kandungan kimianya betul-betul nol. Waktu itu, hanya bisa didapat di sebuah supermarket yang segmennya orang bule di Jakarta," ujar artis cantik ini.
Meski harganya tiga kali lipat dari bahan makanan yang biasa, "Demi anak yang ada dalam kandungan, saya tetap membeli." Ketika Rangga Namora Putra Bharata (11 bulan) mulai diperkenalkan pada makanan padat, Sophie memberinya sayuran organik.
Waktu itu, cerita Sophie, "Saya sempat frustrasi juga karena kesulitan mencari ragam sayuran organik. Masak Rangga hanya dikasih bayam, wortel, dan tomat setiap hari? Aku sampai mencari ke setiap supermarket besar di Jakarta."
Belakangan, Sophie yang sempat berhenti makan sayuran organik usai melahirkan, memutuskan kembali ke bahan-bahan organik. "Aku pikir, kenapa enggak sekalian buat sekeluarga? Efisien juga, kan, enggak harus belanja dan masak dua kali," kata istri Pongki Jikustik ini. Sejak itu, ia membeli makanan organik dalam partai besar. "Tak hanya sayur dan buah, beras, ayam, gula, kacang-kacangan, dan pasta, juga yang organik." Sampai ke pembantu dan pengasuh anaknya, "Semua sama, makan makanan organik."
Ketika Rangga memasuki usia 10 bulan, Sophie mulai menggunakan garam organik. Pasalnya, garam organik tidak melalui proses bleaching dan lebih alami. "Memang, sih, harganya lebih mahal karena masih impor. Sebungkusnya Rp 18 ribu," kata Sophie yang sekali belanja sayuran bisa menghabiskan sekitar Rp 70 ribu. "Tapi itu untuk 2-3 hari."
Kini, Sophie mengaku mulai merasakan khasiat makanan organik yang dikonsumsinya. Badannya terasa lebih segar, sehat, dan ringan. "Untuk Rangga, hasilnya belum kelihatan banget. Cuma matanya lebih cemerlang. Mungkin karena vitamin yang terkandung dalam sayuran," papar Sophie yang merasa bangga lantaran sang anak sudah doyan makan sayuran dalam bentuk apa pun.
"Artinya, kan, meringankan tugas saya di masa depan, yaitu membiasakan anak untuk melihat sayur sebagai a way of life. Sebagai perempuan, kita punya tugas jadi istri dan ibu. Artinya, kita juga punya tanggung jawab menyehatkan keluarga. Apa yang kita taruh di meja makan, itu yang dimakan anak dan suami. Masak, sih, kita mau taruh sampah atau makanan yang enggak sehat?" katanya panjang lebar.
  • Lucy Rahmawati dan Makanan Organik
Menabung Untuk Hari Depan Yang Sehat
Dari bacaan yang dilahapnya, personel AB Three ini jadi merasa takut karena di mana-mana orang menggunakan pestisida, bahan pengawet, bahan kimia, pengawet, dan lainnya untuk mengolah bahan makanan. "Termasuk untuk makanan bayi. Padahal, semua itu bikin daya tahan tubuh bayi ringkih dan kalau terlalu lama menumpuk di tubuh, bisa jadi racun dan sumber penyakit," ujarnya serius.
Nah, ketika hamil, Lucy tak mau mengambil risiko untuk jabang bayinya. Ia pun mulai rajin mengonsumsi makanan organik. Bahkan setelah anaknya, Keitaro Jose Purnomo (1) lahir hingga sekarang, selalu diberi makanan organik. "Aku, sih, enggak terlalu ketat harus makan makanan organik. Tapi kalau buat Keitaro, suatu keharusan. Jadi, setelah diberi ASI ekslusif dan mulai diperkenalkan pada makanan padat, sejak itu aku kasih jus sayuran atau buah organik," kisahnya antusias.
Yang kerap bikin Lucy pusing, sayuran organik amat tergantung pada musim. "Jika iklimnya tidak mendukung untuk panen, beberapa jenis sayuran susah didapat. Pernah aku sulit sekali menemukan brokoli, wortel, atau tomat. Sudah keliling ke beberapa toko, enggak ketemu juga. Untungnya, sekarang sudah mulai banyak dijual di supermarket. Jenisnya juga mulai beragam."
Ia lalu memberi contoh, "Dulu, mau bikin sayur sop yang bahan-bahannya organik, susah banget. Kentang dan daun seledrinya enggak ada," kata Lucy yang rajin berburu bahan makanan organik dua atau tiga kali dalam seminggu. "Bisa berjam-jam aku muter-muter mencari sayuran organik. Mulai dari yang dekat rumah di kawasan Pondok Indah, hingga dekat rumah orangtuaku di Jatibening. Soalnya, kata Lucy, sayur hanya tahan 2-3 hari sehingga ia harus sering mencari stok sayuran buat buah hatinya. "Untuk Keitaro, aku paling sering beli bayam, wortel, tomat, buncis, dan brokoli."
Sumber protein berupa daging dan ayam untuk anaknya, juga diusahakan memakai yang organik. "Ayam organik juga lebih tahan lama. Kalau menyimpannya bagus, bisa tahan sampai dua minggu. Tapi pernah juga, sih, kehabisan stok ayam organik. Akhirnya terpaksa pakai ayam kampung yang bebas suntikan hormon," kisahnya.
Soal harga yang lebih mahal, Lucy mengaku tidak terlalu mempermasalahkan. Demi anaknya, ia ingin mengupayakan yang terbaik. Jadi, beda Rp 5.000 hingga Rp 10.000, "Enggak masalah. Untuk masalah kesehatan, kita tidak usah lihat harga lagi, deh. Siapa lagi yang menghargai diri kita selain kita sendiri? Jadi, menurut aku, antara harga dan efek positif yang kita dapat, seimbang," kata Lucy yang dalam hal ini mendapat dukungan dari suami.
Targetnya, untuk Keitaro ia akan terus memberi asupan organik minimal sampai usia 5 tahun. Pasalnya, kalau sudah masuk usia sekolah SD, "Anak mulai berteman dan tahu jajan. Tidak bisa setiap saat kita mengontrol."
Masalah khasiat makanan organik, tambah Lucy, tak bisa dirasakan dalam sekejap. "Baru terasa dalam jangka waktu panjang. Mungkin 5-6 tahun lagi baru terasa, kita tidak rentan terhadap penyakit darah tinggi, jantung, kolesterol, dan sebagainya. Jadi, hitung-hitung menabung untuk hari depan yang lebih sehat, deh."
READ MORE - Artis dan Makanan Organik

Sabtu, 11 April 2009

Testimonial Produk Melilea

Raymond Chan
Saya telah menemukan kesehatan dan karir di Melilea. Saya bermaksud berbagi dalam mengutarakan dengan semua pengguna Melilea. Hidup ini begitu singkat, hidup sehat tanpa penyakit itu luar biasa!Rata Tengah
Carmen Yap
Bermula saya mengkonsumsi Melilea Greenfield Organic sejak 5 tahun lalu dengan sangat percaya diri dalam waktu singkat, saya sukses menurunkan berat badan sebanyak 16kg. Kondisi kulit saya terlihat bercahaya nyata dan segar. Kawan saya mengatakan sekarang ini saya terlihat lebih cantik.

Khaw Hwee Boon
Saya sangat berterima kasih kepada Melilea atas produk kecantikan dalam dan luarnya yang telah mengubah kecantikan saya secara menyeluruh dan sekarang saya lebih percaya diri.

Low Kai Boon
Perubahan yang saya dapatkan tidak hanya pada kulit tetapi juga pada kebiasaan aturan pola makan saya. Sekarang, saya bisa makan lebih sedikit dan lebih sehat. Terima kasih Melilea. Melilea Bisa!

Zalina Binti Abdul Rahid
Setelah mencoba Melilea Greenfield Organic selama 3 bulan lebih, berat badan saya berkurang sampai 6kg. Dan sekarang saya telah sukses menurunkan 10kg, selain itu wajah saya sudah tidak berjerawat dan berminyak lagi. Saya begitu puas karena Melilea telah mengubah hidup saya.

Alex Mok Ing Kiet
Sebelum berpuasa berat badan saya 133kg, ukuran pinggang saya 48 inci dan paha saya 32 inci. Saya melakukan berpuasa 3 kali dalam 5 bulan, saya menurunkan berat badan sebanyak 95kg dan sukses menurunkan lemak sampai 38kg. Asam urat, kolesterol, gula darah dan tekanan darah tinggi saya kembali normal. Perubahan saya, hari ini saya telah membuktikan bahwa produk yang bagus harus dibuktikan dengan pengalaman diri kita sendiri.

Haffida Binti Mohd Alias
Sejak saya mulai mencoba produk Melilea pada 7 september 2006 berat badan saya berhasil menurun 12kg dalam kurun 1 tahun. Disamping itu kulit saya terlihat bercahaya, minyak dan jerawat jadi berkurang. Selain itu, sistem ekskresi saya menjadi lebih baik.

Linda Yim
Terima kasih Melilea telah memberi saya kesehatan, kecantikan dan percaya diri!

Alicia Cheong
Saya sangat bahagia ketika kesehatan saya terbukti meningkat setelah 3 bulan seiring tingkat kolesterol menjadi turun tanpa ketergantungan obat-obatan lagi. Terima kasih banyak rangkaian produk Melilea.

Fong LeFun
Setelah menggunakan Melilea Botanical Skin Care series jerawat
dan bintik-bintik di wajah berkurang dan tekstur kulit saya menjadi normal. Sekarang kulit saya lebih sehat bahkan tanpa menggunakan alas bedak. Bahkan saya terlihat lebih muda dari sebelumnya!

Anda berikutnya ? Dengan Melilea? BISA!

READ MORE - Testimonial Produk Melilea

Sabtu, 07 Februari 2009

Testimoni Produk Melilea

- Klik pada gambar untuk memperbesar





  • Penderita Demam Berdarah

Yensen Huang lahir tgal 10 Mei 1997 Sekolah SD Suster Pontianak Kelas 6 A. Waktu liburan mungkin bermain terlalu capek & menjelang masuk tahun ajaran baru ini Yensen mengalami demam tinggi selama 4 hari tdk turun. Sebelumnya kita telah berobat ke dokter keluarga kita. Saran dokter apabila panasnya belum turun di hari ke-4, harus segera ditest darah, takut menderita DEMAM BERDARAH. 
Akhirnya di siang tersebut sekitar jam 11.00 (sebelumnya pagi hari sudah konsumsi MELILEA GFO ) kita pergi ke lab yang ditunjuk dr kel untuk test darah. Ternyata hasil test tsb tromosit Yensen sdh turun di bawah normal alias kena wabah Demam Berdarah. Dan kita kembali konsultasi ke Dokter keluarga. 
Setelah Dr membaca hasil lab dia menyarankan untuk di periksa ke dokter anak untuk pengobatan lebih lanjut. Setelah kita berkonsultasi dgn dokter anak tsb, disarankan ke RS segera . 
Sesudah ke dokter kita langsung pulang ke rumah ( langsung konsumsi GFO lagi untuk yg kedua kali ) untuk siap2 ke Rumah sakit ANTONIUS yg direfrensi dokter. Dan pd jam 5 sore Yensen minta minum GFO. Menurut dia habis minum GFO dia bisa minum air putih banyak karena terasa haus terus. Jam 7 malam kita tiba di RS & dokter jaga langsung membuat surat pengantar ke lab antonius untuk cek ulang darah Yensen. Di luar dugaan hasil test trombositnya NORMAL dan kita disarankan pulang ke rumah dan terusin obat dokter aja. Kita masih khawatir hasil test tsb. Kita langsung kembali ke dr kel untuk memperlihatkan hasil test darah pagi, malam itu ( beliau juga sempat sangsi dengan hasil test tersebut! apakah hasil 1 atau yg ke 2 yag salah ) akhirnya dia memutuskan test darah diulangi lagi ke lab lain . 
Keesokan harinya seperti biasa kita kasih minum GFO kepada Yensen & pada siang hari kita lakukan test darah di lab Prodia Pontianak. Hasilnya kita ambil pd sore hari ternyata hasilnya luar biasa ! Tromosit sdh normal tanpa ada gejala demam berdarah lagi yang ada cuma sedikit gejala tipes. Setelah itu kita berikan terus GFO sehingga esok hari Yensen minta masuk sekolah untuk bertemu teman2nya setelah 25 hari tdk ketemu & mencoba kelas baru Back to school Yensen Huang ! Thanks MELILEA …..!

  • Penderita Kanker dan Tumor
Sayuran segar sangat baik dikonsumsi oleh penderita kanker. Mengapa? Pada dasarnya, setiap orang memiliki sel kanker. Sepanjang hidup seseorang, tubuh mengalami enam sampai 10 kali erupsi sel-sel kanker. Masalah muncul bila sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan atau melemah. Kekebalan yang melemah mengakibatkan daya tahan tubuh tidak mampu mengendalikan mutasi genetik sel karena terganggu atau kehilangan mekanisme kontrol. Seperti dituturkan oleh ahli bedah kanker dan pakar pengobatan herbal, dr Paulus W Halim SpB, daya tahan tubuh yang lemah akan kehilangan kemampuan untuk membunuh sel kanker yang ada dan tidak mampu mengendalikan pertumbuhan sel tersebut. Akibatnya, melalui aliran darah dan getah bening, sel kanker leluasa menyebar ke jaringan sekitar dan organ lain..
 
Dalam sebotol Melilea Greenfield Organic, terkandung lebih dari 20 macam sayuran dan buah-buahan: Butiran Emas (beras merah, gandum, jagung manis, barley), beta karoten (4 jenis wortel), seledri, selada air, lesitin, bayam, parsley, kubis (kubis Brussels, kubis daun, kubis kuning dan kubis merah), celeriac, kedelai, jahe, strawberry, dulse, pepaya, oatmeal, spirulina, rempah-rempah,dan jeruk.

  • TUMOR (Daging Tumbuh)

Menghidap Kanker/Tumor di dagu. Mengeluarkan dana ratusan juta untuk berobat, tetap tidak memberikan perubahan. Awalnya anak beliau yang ber profesi sebagai seorang Dokter meragukan produk GFO, namun karena bapak sarwaji percaya bahwa penyakit apapun dapat di sembuhkan asalkan kita punya tekad untuk sembuh.   Hasilnya setelah 3 minggu mengkonsumsi GFO kondisi kesehatnnya sudah mulai membaik.

  • Leukimia (Kanker Darah)

Miracle! mungkin sebuah kata yang pas, jika seseorang bisa sembuh dari penyakit kanker , terlebih lagi yang mengalaminya adalah seorang anak balita. Berikut saya ambil gambar seorang anak usia 2,5thn berasal dari kota makassar yang bisa pulih kesehatan nya setelah berjuang melawan penyakit Leukimia (Kanker Darah). Ibunya dengan rutin memberi dia Makanan Padat Nutrisi dan bebas pencemaran Melilea Green Field Organic dan Soya,Kini kesehatan nya sudah pulih kembali.




READ MORE - Testimoni Produk Melilea